Showing posts with label java. Show all posts
Showing posts with label java. Show all posts
Thursday, December 12, 2013
Bandung Banjir menjadi Parit Van Java
Kini, tahun 2012 ini, atribut Parijs Van Java, berubah menjadi PARIT Van Java. Bandung adalah kota parit atau selokan. Hanya dengan hujan ringan saja, tak sampai setengah jam, mayoritas ruas jalan dan lahan berubah menjadi parit, menjadi genangan, menjadi kolam dadakan. Parahnya lagi, air hujan yang “suci-bersih” dari atmosfer itu lantas bercampur dengan air limbah hitam, tahi ternak, tinja dan air kencing, juga belepotan dengan sampah. Belum lagi minyak, solar, oli, bensin, dan polutan dari pabrik besar dan skala rumah tangga yang menyebar di tatar Bandung. Dengan fakta ini, masih layakkah sebutan Parijs van Java disandang oleh Bandung?
Atribut substitusi yang patut disematkan pada Bandung kini adalah Venezia van Java, khususnya adalah Bandung Selatan. Lagu Bandung Selatan yang liriknya memuji keelokan paras bentang alamnya sudah tidak cocok lagi diemban oleh Bandung. Memang, di beberapa partisi bentang alamnya masih tersisa kemolekan Bandoeng Tempo Doeloe itu, tetapi wilayah yang dekat dan ditempati manusia sudah jauh dari kenecisan jelita kota Para Hyang, kota dewa-dewi Parahyangan atau Priangan. Julukan Kota Kembang pun sudah lama pudar, bahkan berubah menjadi Kota Kambing, kata seorang penyanyi yang top pada dekade 1980-an.
Lagu Hallo-Hallo Bandung pun ada yang liriknya diplesetkan menjadi “ sekarang sudah menjadi lautan cai (bukan api). Cai adalah air dalam bahasa Sunda. Sebabnya tak lain tak bukan adalah kerusakan lahan konservasi yang menjadi daerah tangsap (tangkap dan resap) air hujan. Akibatnya, saat kemarau terjadi krisis air baku untuk air minum dan kebutuhan domestik – komersial lainnya, dan menimbulkan Banjir saat musim hujan, bahkan oleh curah hujan yang rendah intensitasnya. Anehnya, kata para kalangan, di Bandung banyak ahli teknik dan sosial, juga pendidikan, menjadi sentral pengembangan ilmu, teknologi, dan lingkungan, tetapi kondisi kotanya sangat memiriskan. Miris bagai diiris sembilu, kata gadis molek yang putus cinta monyetnya.
Lagu Hallo-Hallo Bandung pun ada yang liriknya diplesetkan menjadi “ sekarang sudah menjadi lautan cai (bukan api). Cai adalah air dalam bahasa Sunda. Sebabnya tak lain tak bukan adalah kerusakan lahan konservasi yang menjadi daerah tangsap (tangkap dan resap) air hujan. Akibatnya, saat kemarau terjadi krisis air baku untuk air minum dan kebutuhan domestik – komersial lainnya, dan menimbulkan Banjir saat musim hujan, bahkan oleh curah hujan yang rendah intensitasnya. Anehnya, kata para kalangan, di Bandung banyak ahli teknik dan sosial, juga pendidikan, menjadi sentral pengembangan ilmu, teknologi, dan lingkungan, tetapi kondisi kotanya sangat memiriskan. Miris bagai diiris sembilu, kata gadis molek yang putus cinta monyetnya.
Bandung, bagaimanapun juga, tetap kucinta. Inilah kotaku, kota tempat tinggalku, dan aku setia menjadi warga kotamu. This is the city and I am one of the citizens, tulis Walt Whitman. Ada hak dan kewajiban warga Bandung untuk menyelamatkan Bandung dari degradasi alamnya, mulai dari hal-hal kecil seperti mengurangi sampah anorganik yang dibuang ke TPA dan mengubah sampah organik menjadi pupuk di rumah. Memelihara minimal satu pohon berkayu dan sejumlah tanaman lainnya yang tergolong ke dalam lumbung hidup dan apotek hidup atau dapur hidup di setiap rumah.
Save Bandung City, save the citizens.
Save Bandung City, save the citizens.
Thanks To : Gede H. Cahyana
Subscribe to:
Posts (Atom)